Mata Indigo

Mata Indigo (12) | MDMK

Sesuatu terbang melintasi mobilku. Aku menganga saat melihat makhluk itu. Makhluk yang berwujud seseorang yang baru saja aku kenal. Dia tertawa memperlihatkan taringnya padaku, dengan dua sayap hitam dipunggungnya.

“Paman Tobi?” aku terpekik ketika dia berdiri di depan kaca mobilku. Kurem paksa mobil hitam itu. Dia lalu kembali terbang dengan tatapan bagai seorang pembunuh.

“Jangan ikut campur dengan masalahku!” bentaknya padaku.

“Jika tidak, kamu akan merasakan akibatnya sendiri,” ucapnya lalu tertawa kembali. Giginya yang putih mengkilap dan runcing terlihat dengan jelasnya didepanku. Aku gemetaran. Baru kali ini aku merasa takut sekali. Tubuhku bergetar. Apalagi saat kulihat mata merahnya yang menyala-nyala, aku bagaikan semut yang akan tenggelam di dalam sarangnya sendiri. Dia lalu menghilang saat tertawa melihatku metakutan.

“Jangan sampai Lia tahu semua ini, jika dia tahu maka kamu akan berhadapan denganku sendiri, atau Lia dan John akan aku bunuh,” suaranya yang sayup-sayup terdengar.

***

Aku tidak bisa menutup mataku. Aku masih memikirkan paman Tobi yang datang tadi dengan wujud yang sangat menyeramkan. Bayangannya masih berkeliling-keliling di kepalaku.

“Untuk apa paman Tobi melakukan ini?” ucapku sendirian. Pertanyaan itu selalu menyelimuti pikiranku. “Apa mungkin dia akan membunuh John,”. Tapi aku tidak bisa menebak begitu saja apa alasannya. Aku tidak punya bukti apapun. Aku harus mencari bukti. Pikirku.

Handphoneku berdering dengan nada tangga lagu terpopuler sekarang. Kuraih handphoneku yang berada diatas meja belajar. Kutatap layar hpku.

“Siska? Ada apa?” ucapku setelah memberi salam pada Lia.

“John…. John…. John…. Tolong…!!!!” tangis Siska. Aku tidak tau apa yang telah terjadi. Yang pastinya terdengar sangat buruk. Kumasukkan handphoneku kedalam saku celanaku. Lalu aku menuju kerumah sakit.

Disana Siska duduk didepan pintu ruangan dimana John dirawat. Dia menangis tanpa henti. Dia sekali-kali menatap kedalam ruangan kaca yang tertutup tirai biru itu.

“Apa yang terjadi?” ucapku setelah menghampiri Lia dan duduk disampingnya.

“Aku tidak tahu. Tapi John berteriak-teriak dan manatapiku dengan mata melotot. Aku takut,” ucap Siska dengan air mata yang masih belum berhenti. Aku memeluk Siska yang ketakutan. Aneh pikirku. Kenapa harus seperti ini. Apakah aku harus berterus terang kepada Siska bahwa kemungkinan paman John yang melakukan ini semua. Tapi tidak mungkin, itu akan membuat Siska malah stress karena berfikir pamannya yang dianggap baik itu yang ingin membunuh keponakannya sendiri.

“Kamu harus tenang. Jangan menangis, coba aku hubungi Kevin untuk datang kemari, mungkin dia dapat membantu kita?” ucapku sambil mengelus-elus punggung Siska. Dia hanya menggangguk patuh.

Telepon yang sedari tadi kupegang kini kunyalakan dan langsung kutekan nomor Yogi dan memanggilnya.

“Halo, Assalamualaikum… Ada apa Lia? Kok tumben telpon aku,” ucap Yogi dari balik speaker telepon genggam milikku.

“Apa Kevin ada disitu?”

“Iya, dia ada disini, ada apa? Apa ada yang penting,”

“Iya, ini sangat penting, aku membutuhkan kalian berdua, ini masalah sepupu Siska, John. Dia sakit dan sakitnya itu tidak masuk akal, dan juga… ahh,, nanti aja aku ceritakan, yang pastinya kalian harus kemari!”

“Baik, aku dan kevin akan kesana?” kata Yogi dengan rasa cemas.

“Kamu tidak ajak aku?” terdengar suara dari arah seberang Yogi. Aku rasa itu adalah Leo.

“Kamu juga boleh ikut, ayo buruan.. Eh Lia, aku matikan yah, aku akan kesana sekarang juga, kamu sms tempatnya ya..!!” ucap Yogi.

“Iya-iya,”

***

Tiga orang pemuda datang dengan tergesa-gesa. Mereka adalah Yogi, kevin, dan Leo. Dan seorang wanita juga menyusul dari belakang. Dia adalah Lala.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Bukannya John sudah dibawa pulang kemarin?” kata Lala duduk disamping Siska yang masih meneteskan air mata.

“Iya, John akan dipulangkan kemarin, tapi karena penyakitnya kambuh lagi maka kepulangannya diundur dulu, maaf tidak mengabari kalian tentang hal ini!” ucap Siska mengelus pipinya yang berair.

“Jadi, bagaimana keadaannya sekarang?” ucap kevin.

“Dia tadi aneh, dia berteriak-teriak dan menatapiku dengan tatapan aneh, aku sangat takut?” balas Siska.

“Aku akan mencoba melihatnya?” ucap Kevin melangkah dibalik kaca dan melihat sesuatu. Sesuatu yang pernah sebelumnya kulihat. Yaitu makhluk yang menenpel dan mengikuti John. Makhluk dengan wajah nenek-nenek tua berkeriput, dengan mata merah, rambut putih acak-acakan serta dua taring dibibirnya dan dua tanduk merah dikepalanya menyeringai kearah Kevin.

“Apa yang kamu lihat?” ucapku pada Kevin.

Kevin hanya diam. Dia seakan berfikir tentang apa makhluk tadi itu. “Aku melihat ada makhluk aneh mengikuti John. Makhluk yang dapat membahayakan John nantinya jika makhluk itu tidak disingkirkan segera,” jelas Kevin.

“Iya, aku juga melihatnya tadi, makhluk yang sama yang seperti kamu lihat,” kataku pada Kevin.

“Jadi apa yang harus kita lakukan?” ucap Leo.

“Kita harus melepaskan John dari makhluk itu,” ucap Kevin mantap.

Kami semua diam. Aku berfikir ini saatnya untuk menceritakan masalah paman Tobi pada Siska dan yang lainnya. Ini pasti akan berakhir jika masalah ini aku ceritakan semua pada mereka.

“Sebenarnya ada yang ingin kuceritakan pada kalian tentang masalah ini? Tapi aku takut membuat Siska merasa benci padaku,” kataku dengan jelas membuat semuanya memperhatikanku.

“Ada apa Lia? Ceritain semuanya?” ucap Siska menatapku aneh.

“Ini ada sangkut pautnya dengan pamanmu, paman Tobi!”

“Ada apa dengan paman Tobi? Kenapa ini ada sangkut pautnya dengan paman Tobi?”

“Kemungkinan kamu tidak akan percaya padaku Sis, tapi apa yang akan aku ceritakan ini memang benar,”

“Apa? Ceritakan saja,” kini Yogi bersuara.

“Sebenarnya semalam waktu aku pulang kerumah, sesuatu datang melewati mobilku. Sesuatu yang terbang yang aku fikir itu adalah kelelawar atau burung hantu. Tapi aku berhenti mendadak ketika sesuatu itu mencegah jalanku. Dia adalah pamanmu Sis, paman Tobi. Dia mengatakan bahwa aku tidak boleh ikut campur dengan urusan ini, dan jika aku berani ikut campur maka aku, kamu dan John akan dibunuhnya,” jelasku sambil menunjuk Siska.

“Tidak mungkin, paman Tobi tidak akan mungkin melakukan ini? Dia orangnya baik, bahkan memperlakukan kami seperti anaknya sendiri, tidak mungkin, ini tidak mungkin,” ucap Siska menangis tersedu-sedu.

***

Malam itu kami berkumpul didalam ruangan John dirawat. Diana John terbaring lemas dengan kedua tangan dan kakinya diikat pada tiang tanjangnya. Dia sering memberontak dan berteriak-teriak aneh seakan dalam tubuhnya terdapat orang lain yang mengendalikannya. Dia juga sering tertawa cekikikan.

Kami berenam berencana mengeluarkan makhluk dalam tubuh John. Siska sudah berhenti menangis. Dia semakin percaya bahwa paman Tobi lah yang melakukan ini karena paman Tobi tidak pernah datang lagi kerumah sakit itu untuk menjenguk John. Bahkan hapenya sudah tidak aktif lagi jika dihubungi oleh Siska.

Malam itu angin berhembus melewati mereka berenam. Sesuatu yang aneh mulai terasa dalam ruangan kamar John dirawat. Suasana mencekam sudah dapat terlihat dengan hilangnya suara gaduh di kamar sebelah. Rumah sakit yang mulai sepi oleh kunjungan orang-orang atau bahkan semua pasien atau pengunjungnya sudah tertidur pulas sebab ini sudah tengah malam.

“Kita harus berhati-hati, kemungkinan dia akan datang sebentar lagi,” ucap Kevin pada kami semua.

Kevin sudah merencanakan ini. Pasti paman Tobi akan datang tengah malam nanti untuk memberi pembalasan sebab aku telah memberitahukan pada Siska dan teman-teman akan dirinya sebenarnya.

Jam didinding berdetak sangat keras. Suara orang berjalan mendekati kamar dimana kami semua duduk bersila yang ditengahnya ada John dan sambil berpegangan tangan masing-masing dan menutup mata.

Pintu terbuka dengan kerasnya sehingga aku kaget luar biasa. Kami membuka mata dan melihat penampakan yang sangat luar biasa.???
***

Apakah yang mereka lihat…??
Sesuatu yang luar biasa seperti apakah itu…???
Apakah sesuatu ini akan mengancam nyawa mereka berenam…???

***


Mata Indigo (11) <=

=> Mata Indigo (13) Last

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s