Anna Dressed In Blood – 05

Bisa kusimpulkan, sekolah Sir Winston Churchill Collegiate (&) Vocational rupanya sama dengan SMA lain yang pernah kumasuki di Amerika. Seluruh sesi pelajaran pertama kuhabiskan untuk membahas jadwalku bersama konselor sekolah, Ms. Ben—perempuan muda ramah yang ditakdirkan untuk selalu mengenakan turtleneck kedodoran dan memiliki banyak sekali kucing.

Sekarang, saat berada di koridor, setiap pasang mata tertuju kepadaku. Aku murid baru dan penampilanku berbeda, tapi bukan hanya itu. Seluruh mata tertuju pada setiap orang karena ini hari pertama masuk sekolah, dan semua penasaran mengetahui perubahan teman seangkatan mereka selama musim panas. Pasti setidaknya ada lima puluh perubahan penampilan dan gaya baru yang dicoba di suatu tempat di bangunan ini. Si kutu buku pucat mengecat putih rambutnya dan memakai kalung anjing. Cowok kerempeng anggota tim lari menghabiskan seluruh bulan Juli dan Agustus dengan mengangkat beban dan membeli kaus ketat.

Namun, pandangan mereka cenderung tertuju lebih lama ke arahku, soalnya walau aku murid baru, sikapku tak menunjukkan demikian. Aku nyaris tak menatap nomor-nomor ruang kelas yang kulewati. Aku pasti bakal menemukan ruang kelasku, ‘kan? Tak perlu panik. Lagi pula, aku sudah ahli di bidang ini. Aku sudah bersekolah di dua belas SMA dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Dan, aku sedang mencari sesuatu.

Aku harus masuk ke dalam pergaulan sosial. Aku perlu membuat orang-orang mau bicara kepadaku agar bisa mendapatkan jawaban yang kucari. Karenanya setiap kali berpindah sekolah, aku selalu mencari sang Ratu Lebah.

Semua sekolah punya ratu lebah. Cewek yang tahu segalanya dan kenal siapa saja. Sebenarnya aku bisa saja mencari dan mencoba mendekatkan diri dengan kapten tim atlet sekolah, tapi aku tak mahir melakukannya. Ayah dan aku tak pernah menonton pertandingan olahraga atau bermain lempar tangkap. Aku sanggup bergulat melawan hantu seharian, tapi bermain football bisa membuatku jatuh pingsan. Kebalikannya, gadis-gadis selalu lebih mudah didekati. Aku tak tahu mengapa. Mungkin karena aura asing yang kupancarkan, serta tampang murungku yang tak berlebihan. Mungkin juga karena sesuatu yang sesekali kulihat pada bayanganku di cermin, sesuatu yang mengingatkanku kepada Ayah. Atau, mungkin saja karena penampilanku memang enak dilihat. Karenanya, aku cukup menjelajahi koridor sekolah sampai akhirnya menemukan cewek itu, yang tengah tersenyum sambil dikelilingi banyak orang.

Tak mungkin salah mengenalinya: ratu sekolah memang selalu cantik, dan yang satu ini cantik jelita. Dia memiliki rambut pirang ber-layer dan bibir sewarna persik matang. Begitu melihatku, dia mengangguk samar. Seulas senyum ramah tersungging di wajahnya. Cewek ini pasti bisa mendapatkan semua yang diinginkannya di Winston Churchill. Dia kesayangan guru, ratu perjamuan homecoming, dan pusat perhatian di setiap pesta. Semua yang ingin kuketahui pasti bisa kuperoleh darinya. Dan, kuharap dia mau melakukannya.

Aku sengaja berjalan melewatinya dengan tak acuh. Beberapa detik kemudian, dia pun meninggalkan kelompoknya untuk mendekatiku.

“Hei. Aku belum pernah melihatmu.”

“Aku baru pindah ke kota ini.”

Cewek itu tersenyum lagi. Giginya bagus dan mata cokelatnya hangat. Dia langsung membuka diri. “Kalau begitu, kau butuh bantuan untuk bergaul di sini. Perkenalkan, aku Carmel Jones.”

“Theseus Cassio Lowood. Orangtua macam apa yang menamai anaknya Carmel?”

Dia tergelak. “Orangtua macam apa yang menamai anaknya Theseus Cassio?”

“Hippie,” jawabku.

“Itu dia.”

Kami tertawa bersama dan tawaku tidak sepenuhnya dibuat-buat. Carmel Jones adalah penguasa di sekolah ini. Terlihat jelas dari caranya membawa diri, seolah sampai kapan pun dia takkan pernah harus menunduk di hadapan orang lain. Orang-orang menyingkir seperti sekelompok burung menghindari kucing saat kami lewat. Kendati demikian, dia tak terlihat sombong atau sok penting seperti kebanyakan cewek lain. Aku memperlihatkan jadwal pelajaranku kepadanya, dan rupanya kami sama-sama mendapatkan kelas Biologi pada sesi keempat dan—ini lebih baik lagi—jam makan siang yang sama. Ketika meninggalkanku di pintu kelas sesi keduaku, dia menoleh dan mengedip kepadaku.

Ratu lebah hanyalah bagian dari pekerjaanku. Kadang ini sulit untuk diingat.

Carmel melambai memanggilku pada jam makan siang, tapi aku tak langsung menghampirinya. Aku ke sini bukan untuk mengencani siapa pun, dan aku tak mau membuatnya salah duga. Memang, sih, dia lumayan seksi, dan aku harus mengingatkan diri bahwa popularitas dan kemudahan yang dimiliki Carmel mungkin membuatnya menjadi pribadi yang sangat membosankan. Dia terlalu ceria untukku. Sungguh. Begitu juga orang-orang lainnya. Mau bagaimana lagi? Aku kerap berpindah tempat, dan terlalu sering menghabiskan larut malam untuk membunuh. Bisa dimaklumi, ‘kan?

Aku memandang berkeliling ke seantero ruang makan siang, memperhatikan kelompok-kelompok di sana, bertanya-tanya mana yang paling mungkin mengantarkanku ke Anna. Kelompok gotik pasti paling tahu ceritanya, tapi pasti yang paling sulit disingkirkan juga. Kalau mereka sampai tahu bahwa aku serius hendak membunuh hantunya, jangan-jangan aku harus melakukannya bersama satu geng peniru Buffy the Vampire Slayer yang memakai eyeliner hitam dan membawa salib, serta sibuk memperbarui status Twitter mereka di belakangku.

“Theseus!”

Sial, aku lupa bilang pada Carmel agar memanggilku Cas. Hal terakhir yang kuinginkan adalah nama “Theseus” itu beredar dan terus diingat. Aku mendekati mejanya, orang-orang terbelalak menatapku. Sekitar sepuluh gadis lain mungkin langsung jatuh hati kepadaku karena melihat Carmel menyukaiku. Atau, setidaknya itulah yang dikatakan ahli sosiologi di kepalaku.

“Hei, Carmel.”

“Hei. Nah, jadi apa pendapatmu tentang SWC?”

Aku mengingat-ingat dalam hati untuk tidak menyebut sekolah ini “SWC”.

“Lumayan, berkat panduan turmu tadi pagi. Oh, ya, aku biasa dipanggil ‘Cas’.”

“Caz?”

“Yeah. Tapi, pakai s saja. Kalian makan siang apa di sini?”

“Biasanya kami ke bar piza Pizza Hut di sana.” Dia menunjuk dengan mengedikkan kepala sekenanya, aku pun menoleh dan menatap sambil lalu ke arah yang ditunjuknya. “Nah, Cas, kenapa kau pindah ke Thunder Bay?”

“Pemandangannya,” jawabku, lalu tersenyum. “Percayalah. Kau takkan percaya dengan jawaban jujurku.”

“Coba saja,” balasnya. Lagi-lagi ini membuatku berpikir Carmel Jones tahu betul cara mendapatkan keinginannya. Dia juga memberiku kesempatan untuk berbicara blak-blakan. Mulutku bahkan sudah bergerak untuk mengatakan, Anna, aku kemari karena Anna, ketika gerombolan Geng Trojan berkaus tim gulat Winston Churchill Wrestling berkumpul rapi di belakang kami.

“Carmel,” panggil salah satu dari mereka. Tanpa melihat pun aku tahu bahwa dia adalah pacar Carmel, atau mungkin belum lama putus darinya. Panggilan itu terdengar begitu akrab. Dan, dari reaksi Carmel, mengangkat dagu dan menaikkan sebelah alis, menurutku lelaki ini mungkin mantan pacarnya.

“Kau datang malam ini?” tanyanya, sama sekali tak menggubrisku. Aku menatapnya dengan geli. Mantan pacar yang posesif sedang beraksi.

“Ada apa malam ini?” tanyaku.

“Pesta tahunan Edge of the World.”Carmel memutar bola mata. “Kebiasaan yang sejak lama sekali rutin kami lakukan setiap malam pada hari pertama sekolah.”

Yah, sudah sejak lama sekali, atau setidaknya sejak film The Rules of Attraction ditayangkan pada 2002.

“Kedengarannya seru,” komentarku. Makhluk Neanderthal di belakangku tak lagi bisa diabaikan, jadi aku mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.

Hanya orang yang paling berengsek diantara orang berengsek yang akan menolak menjabat tanganku. Dan, aku baru saja bertemu dengan orang seperti itu. Dia hanya mengangguk dan berkata, “Apa kabar.” Dia tak balas memperkenalkan diri, Carmel yang melakukannya.

“Ini Mike Andover.” Carmel menunjuk yang lain. “Dan, Chase Putnam, dan Simon Parry, dan Will Rosenberg.”

Semua mengangguk kearahku dengan gaya bajingan sejati, kecuali Will Rosenberg yang menjabat tanganku. Dia satu-satunya yang kelihatannya tidak terlalu payah. Dia mengenakan jaket tim olahraga sekolah longgar dengan bahu membungkuk, seolah-olah agak malu dengan pakaiannya. Atau, mungkin malu dengan kelakuan teman-temannya.

“Jadi, kau datang atau tidak?”

“Entahlah,” jawab Carmel, terdengar jengkel. “Kupikir-pikir dulu.”

“Kami datang ke air terjun sekitar pukul sepuluh,” kata Mike. “Beri tahu aku kalau kau butuh tumpangan.” Begitu dia pergi, Carmel pun menghela napas.

“Apa yang mereka bicarakan? Air terjun?” tanyaku, pura-pura tertarik.

“Pesta di Air Terjun Kakabeka. Setiap tahun lokasinya berpindah untuk menghindari polisi. Tahun lalu acaranya dilangsungkan di Air Terjun Trowbridge, tapi semua orang panik ketika—” Ucapannya terhenti.

“Ketika apa?”

“Bukan apa-apa. Hanya dongeng hantu.”

Rasanya tak percaya aku bisa seberuntung ini. Biasanya butuh seminggu sampai datang kesempatan emas untuk menyinggung-nyinggung cerita hantu. Itu memang bukan topik termudah untuk dibicarakan.

“Aku suka cerita hantu. Malahan, aku penasaran ingin mendengar cerita hantu yang seru.” Aku duduk di seberangnya dan mencondongkan tubuh ke depan dengan bertopang di kedua siku. “Aku juga butuh seseorang yang bisa menunjukkan kehidupan malam Thunder Bay kepadaku.”

Carmel menatap mataku lekat-lekat. “Kita bisa memakai mobilku. Kau tinggal di mana?”

*

Seseorang mengikutiku. Aku serius, sampai-sampai mataku rasanya ingin berputar ke dalam tempurung kepala dan menyibak rambut belakangku. Aku kelewat sombong untuk berbalik—aku sudah mengalami begitu banyak kejadian menyeramkan untuk diserang oleh manusia. Mungkin aku hanya paranoid walau kemungkinan itu sangat kecil. Tapi, rasanya bukan. Ada sesuatu di belakang sana, dan sesuatu itu masih bernapas—itu yang membuatku gelisah. Orang mati memiliki motif sederhana: kebencian, kesakitan, dan kebingungan. Mereka membunuhmu karena hanya itu yang bisa mereka lakukan. Sementara orang hidup memiliki kebutuhan, dan siapa pun yang membuntutiku jelas menginginkan sesuatu dariku. Itu yang membuatku gugup.

Dengan keras kepala aku tetap menatap ke depan, melangkah lambat-lambat, dan selalu menunggu tanda boleh berjalan menyala pada lampu lalu lintas di setiap persimpangan. Dalam hati aku berpikir betapa tololnya aku karena menunda-nunda membeli mobil baru, sambil berpikir di mana aku bisa nongkrong selama beberapa jam untuk bergaul sehingga tidak diikuti sampai ke rumah. Aku berhenti dan menurunkan ransel kulit dari bahu, merogoh-rogoh isinya sampai tanganku menggenggam sarung athame. Lama-lama aku jadi jengkel.

Aku melewati Pekuburan Presbiterian menyedihkan yang tak terawat, deretan nisannya dihiasi bunga layu serta pita yang koyak tertiup angin dan bernoda gelap karena lumpur. Di dekatku, salah satu nisan roboh ke tanah, tergeletak begitu saja persis orang yang dimakamkan di bawahnya. Terlepas dari suasana muramnya, tempat ini sepi dan tak memperlihatkan pergerakan, dan itu agak menenangkanku. Seorang perempuan berdiri di tengah pekuburan, janda tua, menunduk menatap batu nisan suaminya. Mantel wolnya menggantung kaku di bahu, sehelai saputangan tipis diikatkan di bawah dagunya. Pikiranku terlalu terfokus pada orang yang mengikutiku sampai-sampai baru semenit kemudian aku menyadari perempuan itu mengenakan mantel wol pada bulan Agustus yang hangat.

Jerit terkesiap tertahan di tenggorokanku. Perempuan itu menoleh mendengarnya, dan dari tempatku berdiri aku bisa melihat bahwa ia tak mempunyai bola mata. Hanya ada sepasang batu kelabu di tempat matanya dulu berada, tapi kami terus bertatapan, tak berkedip. Keriput di pipinya sangat dalam, seperti digambar dengan spidol hitam. la pasti memiliki cerita. Kisah menyedihkan yang menjadikan batu sebagai matanya, dan membawanya kembali untuk menatap apa yang kini kucurigai sebagai makamnya sendiri. Namun, aku sedang diikuti. Aku tidak punya waktu untuk ini.

Aku membuka ransel dan menarik belatiku, mata pisaunya berkilau sekilas. Perempuan tua itu membuka mulut dan memamerkan gigi, mendesis tanpa suara. Kemudian, ia berjalan mundur, perlahan tenggelam ke dalam tanah, mirip seseorang yang melambai dari eskalator yang bergerak turun. Aku tak takut, hanya agak malu karena butuh waktu selama ini untuk menyadari bahwa ia sudah mati. la bisa saja mencoba menakutiku seandainya jarak kami cukup dekat, tapi ia bukan tipe hantu pembunuh. Seandainya jadi orang lain, aku mungkin takkan menyadari kehadirannya. Tapi, aku memang bisa melihat hal-hal semacam ini.

“Aku juga.”

Aku terlonjak mendengarnya, suara itu berasal tepat dari balik bahuku. Ada yang berdiri di sebelahku entah sejak kapan. Rambutnya hitam dan acak-acakan, berkacamata bingkai hitam, tubuh kurus tingginya tersembunyi di balik pakaian kedodoran. Rasanya aku pernah melihatnya di sekolah. Dia mengangguk menunjuk kuburan.

“Perempuan tua yang menakutkan, ya?” katanya. “Jangan khawatir. la tak berbahaya, setidaknya ia ke sini tiga hari dalam seminggu. Dan, aku hanya bisa membaca pikiran seseorang yang berpikir sangat keras.” Dia tersenyum mengangkat sebelah bibir. “Tapi, firasatku mengatakan kalau kau selalu berpikir keras.”

Aku mendengar bunyi gedebuk di suatu tempat di dekatku, rupanya aku telah melepaskan athame yang kupegang. Gedebuk yang kudengar adalah bunyi belati itu menghantam dasar ranselku. Aku tahu dialah yang membuntutiku, dan lega rasanya mendapati firasatku benar. Pada saat bersamaan, mengetahui dirinya kemungkinan memiliki kemampuan telepati cukup membingungkan bagiku.

Aku tahu beberapa orang sepertinya. Beberapa teman Ayah memiliki kemampuan telepati dengan berbagai level kemahiran. Ayah bilang kemampuan itu berguna. Tapi, menurutku justru menyeramkan. Kali pertama bertemu Jackson, teman Ayah yang cukup kusukai, aku melapisi bagian dalam topi bisbolku dengan kertas timah. Memangnya kenapa? Saat itu umurku, ‘kan, baru lima tahun. Kupikir itu manjur. Sayangnya saat ini aku tak punya topi bisbol atau kertas timah, jadi aku berusaha berpikir lemah … apa pun itu artinya.

“Siapa kau?” tanyaku. “Kenapa kau membuntutiku?”

Akhirnya aku tahu. Dialah yang memberi bocoran kepada Daisy. Bocah dengan kemampuan telepati yang ingin beraksi. Dari mana dia tahu harus mengikutiku? Dari mana pula dia tahu siapa diriku? Dia sudah menungguku. Menungguku masuk sekolah itu, seperti sejenis ular aneh di rumput.

“Mau makan sesuatu? Aku lapar. Aku belum lama membuntutimu, kok. Mobilku diparkir di jalan.” Dia berbalik dan berjalan pergi, ujung celana jinsnya yang berjumbai menyapu sepanjang trotoar dalam langkah-langkah kecil. Dia berjalan persis anjing yang ditendang, kepala tertunduk dan kedua tangan disusupkan dalam saku. Entah dari mana dia mendapatkan jaket hijau keabuannya, tapi aku curiga itu berasal dari toko sisa surplus perlengkapan tentara yang kulewati beberapa blok lalu.

“Akan kujelaskan semua begitu kita sampai di sana,” katanya sambil membelakangiku. “Ayo.”

Tak tahu mengapa, tapi aku mengikutinya.

*

Dia mengendarai mobil Ford Tempo bercat sedikitnya enam tingkat warna kelabu, dan berbunyi mirip bocah manja yang berpura-pura mengendarai perahu motor di bak mandi. Dia membawaku ke restoran kecil bernama The Sushi Bowl, yang dari luar tampak benar-benar parah, tapi di dalamnya tak terlalu payah. Pelayannya bertanya apa kami lebih suka duduk secara tradisional atau reguler. Aku mengedarkan pandang dan melihat beberapa meja rendah dilengkapi tikar dan bantal di sekelilingnya.

“Reguler,” jawabku cepat sebelum si tentara gila kesasar ini sempat bicara. Aku tidak pernah makan sambil berlutut, dan aku sedang tak ingin terlihat secanggung perasaanku. Setelah mengatakan aku belum pernah memakan sushi, dia pun memesan makanan untuk kami berdua—tapi tetap tak membantuku mengenyahkan perasaan bingung. Aku seakan terjebak dalam salah satu mimpi menyebalkan di mana kau menyaksikan dirimu sendiri melakukan kebodohan, meneriaki dirimu sendiri betapa bodohnya kelakuanmu itu, tapi kau yang di dalam mimpi tetap saja melakukannya.

Bocah di hadapanku tersenyum seperti orang tolol. “Aku melihatmu dengan Carmel Jones tadi,” katanya. “Kau tidak membuang-buang waktu.”

“Apa maumu?” tanyaku.

“Aku hanya ingin membantu.”

“Aku tak butuh dibantu.”

“Kau sudah telanjur mendapatkannya.” Dia membungkuk rendah ketika makanan tiba, dua piring berisi bulatan misterius, yang satu digoreng dan satunya lagi ditaburi butiran kecil jingga. “Cobalah,” katanya.

“Apa itu?”

“Philadelphia roll.”

Aku menatap piring itu dengan curiga. “Yang jingga-jingga itu apa?”

“Uritan kod.”

“Apa, sih, uritan kod itu?”

“Telur ikan kod.”

“Tidak usah, makasih, Untunglah ada McDonalds di seberang jalan. Telur ikan katanya. Siapa, sih, bocah ini?

“Aku Thomas Sabin.”

“Hentikan.”

“Maaf.” Dia menyeringai. “Soalnya terkadang kau sangat mudah dibaca. Aku tahu itu tidak sopan. Tapi sungguh, biasanya aku tak bisa melakukannya terus-terusan.” Dia menjejalkan seluruh bulatan irisan ikan mentah berhias butiran telur ikan itu ke dalam mulut. Aku berusaha tak menarik napas ketika dia mengunyah. “Tapi, aku sudah membantumu. Geng Trojan, ingat? Ketika mereka menghampirimu dari belakang tadi. Menurutmu siapa yang mengirimkan nama itu kepadamu? Aku yang memberimu informasi itu. Terima kasih kembali.”

Geng Trojan. Itulah yang kupikirkan ketika Mike dan gengnya mendekat dari belakangku saat makan siang tadi. Tapi, setelah kurenungkan lagi, aku tak tahu kenapa aku bisa berpikir begitu. Aku hanya melihat mereka dari sudut mata. Geng Trojan. Bocah ini memasukkan pikiran itu ke kepalaku dengan sangat lihai, seperti pesan yang dijatuhkan di lantai di tempat yang mencolok.

Sekarang dia sesumbar bahwa tidak mudah mengirimkan pikiran seperti itu, bagaimana dia hampir mimisan karenanya. Mungkin dia berpikir bahwa dia adalah malaikat pelindung kecilku atau semacamnya.

“Kenapa aku harus berterima kasih kepadamu? Karena kecerdikanmu? Kau memasukkan penilaian pribadimu ke kepalaku. Sekarang aku tak tahu apakah penilaianku bahwa mereka berengsek itu merupakan pendapatku sendiri atau karena kau yang mencekokkannya duluan.”

“Percayalah, kau pasti sependapat. Dan, kau seharusnya tidak bicara dengan Carmel Jones. Setidaknya, jangan dulu. Minggu lalu dia baru saja putus dengan Mike ‘the Meathead’Andover. Mike terkenal suka menabrak orang dengan mobilnya hanya karena orang itu menatap Carmel yang duduk di jok penumpang di sampingnya.”

Aku tak suka anak ini. Dia lancang. Namun, dia jujur dan bermaksud baik, itu yang membuatku sedikit melunak. Kalau dia membaca apa yang kupikirkan, aku akan menyayat ban mobilnya.

“Aku tak butuh bantuanmu,” kataku. Kuharap aku tak perlu menyaksikannya makan lagi. Tapi, makanan yang digoreng itu kelihatannya tak terlalu payah, aromanya pun bisa dibilang lumayan.

“Kurasa kau memerlukannya. Pasti kau sadar kalau aku agak aneh. Kapan, sih, kau pindah ke sini? Tujuh belas hari lalu, ya?”

Aku mengangguk. Tepat tujuh belas hari lalu kami memasuki Thunder Bay.

“Benar, ‘kan? Tujuh belas hari terakhir ini aku terus mengalami sakit kepala terparah dalam hidupku. Rasanya berdenyut-denyut, pusatnya dibelakang mata kiri. Segalanya tercium seperti garam. Dan, sakit kepalaku baru hilang setelah kita berbicara.” Dia mengelap mulut, mendadak serius. “Memang susah dipercaya, tapi kau harus memercayaiku. Aku hanya merasakan pusing seperti ini jika ada peristiwa buruk yang akan terjadi. Dan, sebelumnya, sakit kepalaku tak pernah separah ini.”

Aku menyandar sambil menghela napas. “Menurutmu bagaimana kau bisa membantuku? Menurutmu siapa aku?” Memang, kurasa aku sudah tahu jawaban dari pertanyaan itu, tapi tidak ada ruginya memeriksa ulang. Lagi pula, aku merasa sangat terpojok, sama sekali tak bisa bersikap normal.

Aku merasa baikan jika bisa menghentikan monolog rendah diri dalam hati sialan ini. Barangkali sebaiknya kukatakan saja semuanya. Atau, mulai membayangkan rangkaian gambar: anak kucing memainkan bola benang, penjual hotdog di sudut jalan, penjual hotdog menggendong anak kucing.

Thomas mengelap sudut mulutnya dengan serbet. “Kau punya barang bagus dalam tasmu,” komentarnya. “Si tua Nyonya Mata-Batu sepertinya cukup terkesan dengan itu.” Dia menjentikkan sumpit dan mengambil sepotong sushi goreng, lalu menjejalkannya ke mulut. Dia mengunyah sambil berbicara—kuharap dia tak melakukannya. “Nah, menurutku kau semacam pembasmi hantu. Aku tahu kau kemari karena Anna.”

Mungkin seharusnya aku bertanya apa yang dia ketahui. Tapi, tidak. Aku tak mau lagi bicara dengannya. Dia tahu terlalu banyak tentang diriku.

Daisy Bristol keparat. Akan kuomeli dia habis-habisan karena mengirimku kemari, dimana seorang penguntit berkemampuan telepati telah menungguku, tanpa peringatan.

Aku menatap wajah pucat Thomas Sabin yang sekilas tampak menyeringai angkuh. Kacamatanya didorong ke atas hidung dengan gerakan cepat dan santai, sepertinya dia memang sering melakukan itu. Ada kepercayaan diri tinggi dalam sorot mata biru liciknya; takkan ada yang bisa meyakinkannya bahwa intuisi psikisnya keliru. Lagi pula, tak ada yang tahu berapa banyak yang bisa dibacanya dari benakku.

Secara impulsif, aku mengambil sepotong gorengan ikan bulat dari piring dan memasukkannya ke mulut. Samar terasa saus manis dan gurih pada makanan itu. Rasanya ternyata enak, tebal dan kenyal. Namun, aku tetap tidak sudi menyentuh telur ikannya. Aku sudah muak. Kalau aku tak bisa membuatnya percaya bahwa aku bukan seperti yang dia kira, setidaknya aku harus membuatnya berhenti menyombongkan diri dan bisa menjaga sikap.

Aku menautkan alis dengan ekspresi bingung.

“Anna siapa?” kataku.

Dia mengerjap, dan ketika ucapannya mulai terbata-bata, aku mencondongkan tubuh dengan bertopang pada kedua siku. “Dengarkan aku baik-baik, Thomas,” kataku. “Aku menghargai informasimu. Tapi, tidak ada pasukan, dan aku tidak merekrut. Mengerti?” Kemudian, sebelum dia sempat memprotes, aku berpikir keras, aku memikirkan semua hal mengerikan yang pernah kulakukan, segudang caraku menyaksikan sesuatu berdarah, terbakar, dan terpuntir putus. Aku mengirimkan citra bola mata Peter Carver yang meledak di lubangnya kepada bocah ini. Aku mengirimkan citra Penebeng County 12—saat melelehkan cairan hitam, dengan kulit mengisut kering dan melekat di tulang-tulangnya.

Ternyata ini berefek seperti aku baru saja menonjok wajahnya. Kepalanya tersentak ke belakang, bulir-bulir keringat mendadak muncul di dahi dan di atas bibirnya. Dia menelan ludah kuat-kuat, jakunnya bergerak naik-turun. Kurasa bocah malang ini bisa-bisa kehilangan selera pada sushi-nya.

Dan, dia tidak membantah ketika aku meminta tagihan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s